Rina AND Tomomi CUTE ^^

Sabtu, 31 Maret 2012

Menikmati Sentuhan Teknologi Canggih Kue dan Kloset di Jepang


Kloset yang banyak tombolnya ala Jepang
Ketika pesawat Garuda Indonesia yang membawa kami mendarat di Bandara Internasional Kansai, Jepang, Selasa lalu (29/11), waktu setempat menunjuk pukul 06.00. Keluar bandara, hawa dingin terasa menusuk tulang. Maklum, di Jepang saat ini masih musim dingin dengan suhu 5-15 derajat Celsius.
Hari itu, acara trip to Japan bersama Daihatsu Motor Co Ltd dalam rangkaian Tokyo Motor Show 2011 yang kami ikuti cukup padat. Kami hanya diberi waktu istirahat selama dua jam di Hotel Nikko di kompleks Kansai Airport, sekadar untuk mandi dan ganti pakaian. Setelah itu, kami diajak ke markas Daihatsu di Shiga, sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara Internasional Kansai.
Selama dua jam di Hotel Nikko, pihak travel yang membawa kami memberikan dua kue berbentuk segi tiga dan satu telur rebus yang dibungkus kotak plastik transparan untuk sarapan. ”Apa bisa kenyang dengan dua kue dan sebutir telur?” kata saya dalam hati.
Pihak travel memberikan kue dan telur itu karena alasan waktu yang mepet. Yang menarik perhatian saya adalah kue berbentuk segi tiga tersebut. Awalnya, saya heran dengan tulisan angka 1, 2, dan 3 di bungkus kue itu. Saat itu saya tidak tahu maksudnya. Apalagi, semua huruf di kue tersebut adalah huruf Jepang, kecuali angka 1, 2, dan 3 itu.
Karena lapar, saya makan kue segi tiga tersebut. Saya sempat agak sulit membuka bungkusnya. Karena itu, saya coba membuka sampai kena dengan bantuan gigi, lantas saya makan. Ternyata mirip kue lemper. Yakni, terbuat dari ketan dan di dalamnya ada isi daging yang bentuknya mirip abon. Rasanya lumayan enak.
Setelah makan kue segi tiga itu, saya langsung menyantap telur rebusnya. Begitu telur tersebut saya buka, bagian kuningnya terletak di tengah persis. Sangat berbeda dari telur rebus yang saya makan selama ini. Setelah bagian kuningnya itu saya makan, rasanya juga gurih. Di bagian agak dalam dari kuning telur itu, rasanya seperti setengah matang. Jika sebelumnya saya tak yakin bakal kenyang dengan menyantap dua kue dan telur tersebut, ternyata saya keliru. Saya merasa sudah cukup kenyang dengan menyantap satu kue dan satu telur rebus itu.

Inilah kue Onigiri yang untuk memakannya ada caranya tersendiri.
Belakangan, saya baru tahu bahwa kue segi tiga yang saya makan tersebut disebut onigiri di Jepang. Sebelumnya, saya pernah mendengar nama kue itu. Setahu saya, kue onigiri di Indonesia tidak berbentuk segi tiga dan tidak dibungkus rapat. Umumnya berbentuk bulatan dan setengah terbuka.
”Onigiri dengan bentuk segi tiga berbungkus itu baru-baru ini saja dibikin dan diproduksi masal. Si pembuat onigiri dengan bentuk segi tiga berbungkus tersebut saat ini jadi orang kaya karena hasil karyanya semakin digemari dan dia mendapat royalti untuk karyanya itu,” jelas Keisuke Nasada, salah seorang pendamping rombongan kami dari Daihatsu Motor Co Ltd.
Dari Keisuke pula saya mendapat penjelasan bahwa onigiri dibikin dari beras. ”Beras Jepang itu memang mirip ketan kalau di Indonesia,” kata Keisuke.
Untuk membuat onigiri segi tiga itu, lanjut dia, perhitungannya sangat detail. Selain kandungan gizi dan kalorinya dihitung, kemasan bungkusnya dibikin sedemikian rupa hingga kue bisa awet sampai dua hari. Di Indonesia, setahu saya, onigiri tak bisa tahan sampai 24 jam. “Untuk membuka bungkusnya, ada urut-urutannya. Karena itu, diberi nomor 1, 2, dan 3,” tutur Keisuke.
Dia lantas mencontohkan cara membuka onigiri segi tiga itu. Jika prosedur membuka bungkus tak diikuti, rasa lezat dan gurihnya akan hilang. Memang benar, karena angka 1, 2, dan 3 tersebut saya abaikan, saya hanya merasakan bagian beras dan isinya, sedangkan pembungkus kue dari rumput laut yang berwarna hijau tersebut tidak termakan oleh saya. Karena saya kira merupakan bagian dari bungkus, rumput laut yang dikemas mirip plastik itu pun saya buang.
Beruntung, saya masih menyimpan satu kue onigiri lagi. Saya lantas memakan kue itu berdasar urut-urutan nomor.
Ternyata, rasanya memang berbeda dibanding dengan cara makan yang saya lakukan serampangan sebelumnya. Dengan mengikuti urut-urutan nomor, rumput laut yang membungkus beras dan isinya ikut termakan pelan-pelan sampai habis. Rasanya memang lebih gurih dan sedap.
Di Jepang, onigiri segi tiga berbungkus itu dijual 110-130 yen (1 yen setara Rp 110). Bergantung isi di dalamnya. Tersedia bermacam-macam isi, mulai daging sapi, ikan salmon, hingga ikan tuna. Jika onigiri dijual hingga 130 yen, harga telur rebus yang saya makan itu 100 yen (sekitar Rp 11 ribu) per butir.
”Telur yang kita makan tadi dibikin dengan perhitungan yang detail dan teknologi yang canggih. Dengan teknologi, letak kuning telur selalu berada persis di tengah-tengah. Dengan teknologi pula, rasa kuning telurnya berbeda dari kuning telur di mana pun. Dan rasanya sama semua,” jelas pria 52 tahun tersebut.
”Dengan sentuhan teknologi seperti itu, wajar harga telur tersebut per butir tergolong mahal. Itu berbeda dari di Indonesia. Jika kita membeli selusin telur asing matang, misalnya, dalam selusin itu, kadar dan rasa asinnya bisa berbeda-beda. Maklum, kebanyakan pembuatan telur asin di Indonesia masih menggunakan cara-cara tradisional.
Selain pada kue, sentuhan teknologi canggih bisa dirasakan ketika menggunakan kloset. Mungkin hanya di Jepang kloset didesain dengan teknologi canggih. Selama seminggu berada di Negeri Matahari Terbit itu, saya merasakan canggihnya kloset di sana. Misalnya, kloset di Hotel Nikko Kansai Airport.
Di sisi samping kanan, ada panel-panel khusus untuk pengaturan kloset. Sayangnya, semua huruf yang digunakan sebagai petunjuk adalah huruf Jepang. Karena itu, untuk mengetahui fungsinya, satu per satu panel tersebut saya coba. Saya agak tertolong memahami fungsi panel-panel itu ketika melihat gambar. Di salah satu tombol di kloset tersebut ada gambar berbentuk bokong dengan air menyemprot di bawahnya. Begitu tombol yang bergambar itu saya tekan, ternyata fungsinya adalah untuk membasuh. Tombol ditekan, akan keluar pipa kecil. Dari pipa kecil itulah air mengucur membasahi bokong.
Tekanan semprotan air itu pun bisa diatur, mulai yang paling kuat hingga paling lemah. Ada pula tombol pengatur air dingin atau hangat.
Khusus untuk fungsi membasuh, bisa dipilih apakah ingin basuhan air dengan model semprotan horizontal atau vertikal. Setelah merasa puas dibasuh, jika ingin mengeringkan, ada tombol pengering. Jika dipencet, akan keluar semprotan angin. Ingin disabun? Tinggal tekan tombol, akan keluar cairan sabun dengan aroma pewangi.
Kloset di Hotel Jiragonno, Kawaguchi, malah lebih bervariasi. Ada tiga macam tombol bertulisan massage 1 hingga 3. Begitu ditekan, aliran semprotan air yang keluar terasa seperti pijatan. Karena ada tiga tombol, ada tiga cara pijatan airnya.
Tak cukup itu, kloset di Hotel Jiragonno juga dilengkapi musik. Jika tombol di kloset ditekan, akan terdengar lantunan musik klasik instrumental. ”Ada beberapa artis Hollywood yang kalau datang ke Jepang membeli kloset untuk dibawa pulang,” ungkap Keisuke. Itulah Jepang. Setidaknya, kita bisa belajar bahwa teknologi itu, bagi orang Jepang, diterapkan mulai hal sepele.  ***
http://www.batampos.co.id/index.php/2011/12/07/menikmati-sentuhan-teknologi-canggih-kue-dan-kloset-di-jepang/

hyde! & scandal